Review: Turnover - Peripheral Vision (2015)

7:04:00 PM



Untuk, Kekasihku Ratih
Di Cigondewah.
Halo Ratih. Apa kabar? Ini surat pertamaku untukmu. Sejak aku pindah ke Cikajang, Garut ini, kita belum pernah bertemu lagi dan kita tidak saling berkomunikasi karena kesibukanku bekerja sebagai buruh pabrik kayu ini. Bagaimana pekerjaanmu? Semoga pekerjaan barumu di pabrik kaos ini tidak membuatmu lupa makan, ya.
Tih, baru-baru ini aku mendengarkan album yang sebenarnya sudah lumayan lama sih, rilis tahun kemarin. Agak telat memang, tapi aku terlalu sibuk bekerja di pabrik hingga jarang mendengarkan musik. Tapi setidaknya, kemarin-kemarin aku bisa mendengarkan musik dengan khusyuk lagi. Oh iya, nama band-nya Turnover. Aneh ya nama band-nya, kalo di translate jadi puter balik hehehe. Tapi band ini bagus loh, setidaknya untuk album terbaru mereka yang judulnya Peripheral Vision ini.
Pertama kali aku berkenalan dengan Turnover adalah ketika mereka baru saja merilis debut album mereka dibawah payung Run For Cover Records yang judulnya Magnolia. Impresi aku ketika mendengar Magnolia adalah: biasa saja. Tidak ada sesuatu yang menarik telingaku. Musik mereka tipikal band-band emo revivalist dengan sentuhan pop punk yang membuat mereka terdengar macho dan sangar, padahal tidak. Musik seperti ini memang sedang marak pada tahun 2013. Dan aku hanya menyukai cover album tersebut. Untuk musiknya, seperti yang aku tulis diatas, aku merasa biasa-biasa saja.
Semuanya berubah ketika kemarin aku mendengarkan Peripheral Vision. Sejak lagu pertama yang judulnya Cutting My Fingers Off, aku sudah curiga mereka akan menjadi lebih dewasa dan lebih laid back. Dan benar saja, Tih. Sejak lagu pertama itu, mereka menyuguhkan aku musik emo, tapi rasanya itu seperti band-band Captured Tracks dicekoki musik Mineral hingga Title Fight terus kenob distorsi di efek gitar mereka diputar sama seperti kenob reverb-nya. Apalagi ketika aku mendengar lagu yang judulnya Humming. Intronya mirip band-band macam Beach Fossils. Atau kalau di Indonesia, bikin aku ingat dengan intro lagu Departure-nya bedchamber. Lagu Like Slow Dissapearing juga aku suka. Benar seperti apa yang aku bilang diatas, rasanya seperti perkawinan silang antara Beach Fossils dengan Mineral. Kalau untuk urusan lirik, ya tipikal band-band emo/pop punk sih, masih berkisar di patah hati. Intinya, Tih, sejak lagu pertama hingga lagu terakhir yang totalnya 11 lagu ini, aku menikmati sekali. Tapi menurut aku, yang menjadi kekurangan dari album ini tuh, hampir semua lagunya memakai formula yang sama dan ada tendensi untuk menjadi membosankan. Tapi untungnya, meskipun dari segi musik, lagu-lagunya hampir seragam, mereka memberi mood yang berbeda di setiap lagunya. Aku sempat berkelakar kemarin, karena unsur jangly-nya sangat kental di album ini, begitupun dengan kadar emo-nya sendiri, aku menyebut mereka sebagai band jangle emo hehehe. 
Tapi ngomong-ngomong soal gitar jangly di band emo, sekarang memang sedang marak juga. Yang paling kentara ya di perubahan Title Fight. Aku yakin kamu pasti akan bilang: “Apakah ini membuat Turnover menjadi band yang hanya ikut-ikutan trend saja?” Ya, bisa saja sih, Tih. Tapi aku jadi ingat quote ini: There’s nothing new under the sun. Buat aku, asalkan mereka bisa meracik musiknya dengan gaya mereka sendiri, dan yang penting, bisa menjadi karya yang bagus, itu sah sah saja.
Kemarin kawanku di pabrik bilang, “sekarang banyak band-band pop punk/emo yang jadi nge-pop ya. Kenapa sih?” Dia seorang purist pop punk. Dia sukanya The Ergs, Man Overboard dan band-band yang pop punk banget. Lantas aku jawab simpel saja: hidup kan dinamis dan selalu ada perubahan. Sepertinya jawaban aku ini akan menjawab pertanyaan purist tadi meskipun dengan klise.
Tih, sudah dulu ya. Aku mau tidur dulu. Sudah ngantuk, tadi kerjaan aku banyak sekali. Balas surat ini ya, Tih. Aku tunggu kabar kamu.

Salam Sayang, Kekasihmu Wandi
di Cikajang.


You Might Also Like

0 comments

Subscribe