Review: Camera Shy - S/T (2015)

7:06:00 PM


Untuk Kekasihku Wandi
Di Cikajang, Garut
Hallo Wandi!
Akhirnya kamu kirim surat juga. Baguslah kamu mengirim surat, Ndi, bukan kirim e-mail.  Aku kan tidak punya e-mail, hehe. Ngomong-ngomong, aku senang bekerja disini. Kerjaannya tidak seberat waktu aku bekerja jadi pembantu. Kamu juga jangan lupa istrahat ya, Ndi.
Ndi, aku senang kamu bisa mendengarkan musik lagi seperti dulu. Nanti aku dengerin Turnover yang kamu rekomendasikan ya. Kalau aku, sekarang sedang mendengarkan album baru dari Camera Shy, Ndi. Ini juga sudah lama sih. Tapi aku baru ingin memberikannya padamu. Itu loh, proyekannya bassist/vokalis Whirr dan Nothing, yang band shoegaze berisik itu. Yang aku suka dari Camera Shy itu adalah, musiknya berkebalikan 180 derajat dengan apa yang Whirr atau Nothing suguhkan. KalauWhirr memainkan musik yang berisik, Camera Shy ini musiknya sangat lembut dan nge-pop banget. Kamu tahu kan aku suka dengan Sarah Records? Nah, mendengarkan Camera Shy ini membikin aku ingat dengan band-band Sarah Records. Apa pasal? Ya karena mereka membawakan musik indie pop yang manis, Ndi.
Tidak aneh sebenarnya ada front man band shoegaze kemudian membikin proyek musik indie pop. Karena toh, kedua genre itu masih satu root. Di Indonesia juga ada Roni Smith, kawanku frontman dari My Violaine Morning yang kemudian membikinPop at Summer untuk menyalurkan hasrat indie pop-nya. Untuk albumnya Camera Shy yang berjudul sama dengan nama band-nya ini, sejak lagu pertama yang judulnya Remember ini, aku sudah langsung menyukainya dan aku langsung merasakan aura The OrchidsBrighter hingga yang paling sekarang ya The Pains of Being Pure at Heart di era-era awal mereka. Aku juga suka vokal  Lexy Morte dan tentunya musik mereka di lagu Your Only One. Entah kenapa antara musik yang dibikin oleh Nick Bassett terasa sangat pas dan padu dengan karater vokal Lexy yang dulu juga sempat menjadi vokalis dari Whirr. Jika pada eraWhirr karakter vokal Lexy tidak terasa begitu kuat karena penggunaan efek Reverb dan Delay pada vokalnya, di Camera Shyini vokalnya terdengar jelas dan berkarakter karena suara vokalnya dibiarkan clean. Aku juga suka lagu penutup album ini,Seemingly Ill yang menurut aku adalah track penutup yang paripurna. Sebuah track akustik dengan balutan suara latar ombak, gitar akustik, ketukan piano yang rapuh dan tiupan saxophone yang megah tapi memberikan unsur ringkih. Kemudian vokal Lexy masuk dengan efek reverb yang tidak berlebihan dan memberikan mood sedih –dan indah dalam waktu yang bersamaan. Overall, aku menikmati album ini, Ndi.


Dan ngomong-ngomong, ternyata album ini juga dirilis Run For Cover Records, Ndi. Sama dengan Turnover yang kamu tulis di suratmu. Apakah ini pertanda kita jodoh, Ndi? Aku harap sih begitu, hehehe. Untuk rating album ini, hmm, sepertinya aku akan memberi mereka 7.6/10 karena aku selalu suka dengan orang yang penuh kejutan. Nick Basett membikin band indie pop juga merupakan kejutan buat aku. Aku mendengarkan Whirr sejak 2012 dan terbiasa dengan kebisingan yang mereka beri, lalu tiba-tiba Nick muncul dengan segala rasa manis dan hangat lewat Camera Shy.
Ah, sudah dulu ya, Ndi. Aku takut nanti surat ini terlalu kode untukmu. Aku tunggu balasanmu lagi ya, Ndi. Jangan lupa makan dan ingat aku selalu. Oh iya, jangan lupa juga Ibadah ya meskipun aku tahu kamu tidak percaya Tuhan, hihihi. Daaa~
Dari Yours Truly, Ratih
Di Cigondewah.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe