Review: The Lobster (2015)
7:09:00 PM
***
“Kang, Lobster satu porsi, yah,” ucap Wanto kepada salah satu pelayan di jongko seafood kecil di pinggiran Jalan Buah Batu lalu bertanya pada kawannya yang duduk di pinggirnya, Cecep, yang sedang melihat-lihat menu. “Pesen apa, Cep? Sok aja pesen yah, biar bayarnya sekalian.”
“Cumi goreng tepung weh, Wan,” jawab Cecep.
“Sama cumi goreng tepung satu yah, Kang,” tambah Wanto.
Wanto menyalakan sebatang rokok kretek yang dia keluarkan dari sakunya. Menghembuskannya perlahan sambil mencoba untuk mengeluarkan semua lelah setelah seharian bekerja sebagai kuli angkut di Pasar Caringin. Kawannya, Cecep adalah kawannya dari desa yang dia ajak untuk ikut bekerja di pasar.
“Ngomong-ngomong lobster, Wan, saya jadi inget film yang baru saya tonton nih,” ujar Cecep.
“Film The Lobster yah? Iya saya juga kemaren-kemaren baru nonton. Rame euy! Edan eta kirain film-nya Stanley Kubrick.”
“Iya, bagus pisan eta. Wah. Kalo saya mikirnya itu film Woody Allen, sih. Ya campuran Kubrick sama Allen lah, ya. Hehe. Menurut kamu gimana filmnya, Wan?” Tanya Wanto sambil ikut menyalakan sebatang rokok filter.

“Kalo dari jalan ceritanya dulu nih ya. Saya mah ngeri. Kebayang kalo saya hidup di dunia distopia eta, pasti udah langsung dibawa ke hotel itu dan langsung jadi bagong.” Mereka berdua tertawa. “Di dunia distopia itu kan, kalau seseorang jadi single, langsung dibawa ke hotel terus disuruh –dan dipaksa– harus punya pasangan dalam waktu 45 hari. Kalau enggak nanti bakal berubah jadi binatang dan dibuang ke hutan buat nanti diburu.”
“Iya. Ngeri sih itu. Kalau dari apa yang saya coba interpretasikan sih ya, cerita itu tuh semacam penggambaran masyarakat sekarang yang selalu dipaksa untuk mengikuti sebuah sistem tertentu. Dan mereka yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan sistem tersebut, akan terlempar. Atau kasarnya, terbuang dari kumpulan masyarakat tersebut. Dan pas nonton film ini, saya langsung ingat puisi Aku dari Chairil: Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang,” jelas Cecep sambil sedikit tertawa.
“Ya. Setuju itu, Cep. Ini tuh menurut saya juga sebuah satir cerdas dari si sutradara Yorgos Lanthimos. Satir ini dikemas dengan surrealisme ala Luis Bunuel dan juga Salvador Dali. Penggunaan lobster juga saya mah yakinnya memang disengaja biar mirip Lobster Telephone-nya Dali. Selain memang, lobster kan bisa hidup sampai 100 tahun. Biar bisa panjang umur. Kan itu salah satu alasan buat beberapa orang yang berharap bisa hidup jadi binatang.”
“Ah iya. Baru keingatan saya, Wan sama Lobster Telephone-nya Dali. Yang ada instalasi lobster diatas telepon itu ya?”
“Iya, Cep. Dan terus, nambahin apa tadi kata kamu. Ini tuh sebuah protes untuk sebuah sistem. Sistem disini kalau dari yang saya lihat yaitu sistem berkeluarga. Kenapa seseorang harus menikah? Kenapa menikah itu dijadikan tujuan utama seseorang setelah, misalkan, sukses? Padahal kan kalau enggak menikah juga ya itu hak seseorang. Di masyarakat kan kalau ada seseorang yang enggak menikah pasti langsung di cap yang enggak-enggak. Disini saya tidak berbicara dari sudut pandang agama ya, Cep. Panjang kalau berbicara agama,” ujar Wanto sambil membuang abu rokok ke atas asbak yang masih kosong itu.
“Bener, Wan. Dan ternyata, seperti apa yang tergambar saat David kabur dari hotel dan bergabung dengan The Loner, para jomblo fundamentalis yang menentang sistem berpasangan itu, ternyata baik dari mereka yang mendukung atau menolak sistem itu pun sama-sama banyak mengekang. Dilarang bermesraan dengan sesama The Loner lah, dilarang jatuh cinta lah, itu lah. Jadi, memang tidak ada sebuah sistem yang benar-benar sempurna. Tapi si David ini berhasil menentang aturan tersebut dengan jatuh cinta dan bermesraan dengan perempuan yang diperankan Rachel Weisz itu.”
“Nah itu, Cep. Salah satu soundtrack-nya kan ada lagu Nick Cave dan Kylie Minogue yang judulnya ‘Where the Wild Roses Grow’. Liriknya itu sepertinya jadi pertanyaan yang menjadi landasan film ini: ‘Do you know where the wild roses grow, so sweet and scarlet and free?’. Tapi film ini pula tidak memberikan jawaban. Tapi menyarankan kita untuk tetap mencari sebuah tempat yang bisa benar-benar memberikan kebebasan dan lebih pentingnya, kenyamanan. Dalam kasus ini, ya sistem itu tadi.”
“Wah, dari lobster jadi panjang ya ceritanya. Si sutradara ini memang brilian. Saya baru pernah nonton satu film dia sebelumnya, Alps. Dan ternyata di film bahasa inggris pertamanya ini dia lebih matang. Film ini terbaik sih. 8.7/10 lah.”
“Kenapa 8.7 saja, Cep?”
“Mungkin karena sedikit kekurangan di setting-nya saja sih, Wan. Katanya di dunia distopian, tapi kok ya masih mirip sama dunia kita sekarang. Ada mall, ada cafe, dan semuanya masih serba normal selain sistem tentang pasangan ini. Meskipun aura surealisme sudah terasa dari scene awal sih. Pas adegan dua sapi sedang makan rumput terus salah satunya ditembak. Itu absurd sih.”
“Ya, ya, ya, setuju sama itu. Ah, yang pasti, film ini memang salah satu film terbaik tahun 2015 kemarin. Cocok buat kita yang suka film-film surreal Bunuel. Hanya saja, film ini dikemas untuk orang-orang generasi Instagram,” Wanto tertawa.
Pasanan mereka berdua pun datang. Satu porsi lobster dan cumi goreng tepung.
“Lobster sama cumi ini bukan jomblo-jomblo yang berubah dari hotel itu kan, Cep?”
Mereka berdua tertawa sambil mulai menyantap makanan mereka.


0 comments