Review: Chorusgirl - S/T (2015)

7:08:00 PM


Saya sedang duduk-duduk santai di warung kopi dekat kantor saat saya mendengarkan album debut Chorusgirl  yang berjudul sama dengan nama band-nya tersebut lewat speaker warung kopi yang saya colokan ke handphone saya. Sambil meminum sebotol energi drink yang saya beli di warung pinggir warung kopi dan sebatang rokok terselip di antara telunjuk dan jari tengah, saya beristirahat sejenak setelah bekerja sebagai satpam sebuah Bank di Padalarang. Dan saya memulai perkenalan saya dengan Chorusgirl dengan lagu Oh, To Be a Defector. Sebagai catatan, saya mendengarkan ini bersama seorang kawan saya, Alimin yang bekerja sebagai tukang tambal ban di seberang kantor saya.
“Menurut kamu gimana, Min, lagu ini?” Saya bertanya pada Alimin.
“Jujur, lagu pertama ini tidak begitu menyenangkan telingaku, Mas. Bagi aku lagu ini cuma sebuah track noise pop medioker,” Jawab Alimin, jujur. Saya pun merasakan apa yang dirasakan Alimin. Saya langsung skip lagunya.
“Nah ini sepertinya menjanjikan, Min. Iya ga?” Tanya saya lagi.
“Hmm. Judulnya No Moon ya Mas?” Alimin melirik judulnya di handphone saya. “Aku mulai merasa ada sesuatu. Sesuatu yang akan memuaskan, Mas. Di lagu ini nafas noise pop-nya mulai berkembang menjadi sesuatu yang menarik. Ada sentuhan post-punk yang bersahabat disini. Dengan balutan synth halus dibelakang dan ketukan drum yang berhasil membuatku sedikit mengangguk-anggukkan kepala, lagu ini terasa lumayan,” Terusnya sambil sedikit mengangguk-anggukan kepala.
Kita terdiam sambil khusyu mendengarkan lagu per lagu album ini. Baru pada lagu keempat yang berjudul Sweetness and Slight, saya mulai tahu apa yang Chorusgirl coba suguhkan.

“Ini seperti perpaduan antara kasarnya The Jesus & Mary Chain era Psychocandy, manis-sekaligus-garangnya Talulah Goshhingga post-punk jangly ala New Order era Power, Corruption and Lies. Bener ga, Min?”
“Iya, Mas. Aku juga rasain itu. Intro-nya ngingetin sama Just Like Honey. Tapi pas masuk bagian verse, si Chorusgirl ini masukin pengaruh-pengaruh musikal lainnya. Menarik ini!” Ujar Alimin antusias.
“Iya, Min. Dan bagusnya, perpaduan itu berhasil!”
Aku dan Alimin mulai terhanyut dalam debut album Chorusgirl ini. Lagu per lagu kita mainkan sambil menikmati kopi hitam yang masih ngebul dan gorengan yang baru diangkat dari penggorengan. Akhirnya semua lagu sudah habis dimainkan. Saya dan Alimin saling tersenyum karena album ini meskipun hampir mengecewakan, tetapi pada ahirnya memang berhasil menyenangkan kami berdua.
“Debut album Chorusgirl ini bagi aku sangat terasa menariknya di lagu Arrows and Bones karena semua unsur yang sebelumnya Mas sebutkan paling kental terasa disini. Enak ini, Mas. Nanti aku minta ya albumnya. Masukin ke flashdisk ini saja, Mas.” Alimin menyodorkan sebuah flashdisk.
“Oke, Min. Nanti saya copy. Besok saya kasih lagi ke kamu, ya.”
“Ngomong-ngomong, ini band rilisan Fortuna Pop ya, Mas?”
“Iya, Min. Fortuna Pop ini.”
“Wah, Fortuna Pop memang sepertinya label yang lumayan produktif dan selalu muncul dengan band-band baru yang menarik ya. Aku selalu nggak tahu ini band apa kalau dapat e-mail newsletter dari Fortuna Pop, tapi pas aku dengerin, selalu menarik. Sedikit yang mengecewakan.” Jelas Alimin.
“Setuju, Min. Mereka selalu memberi kejutan,” jawabku sambil melirik jam tangan. “Duh, sudah jam masuk masuk lagi nih, Min. Saya balik ke Bank dulu ya. Kapan-kapan kita dengerin album baru lagi disini. Kamu memang kawanku yang paling ngerti musik.”
Saya tertawa melihat Alimin yang malu dipuji.
“Ah, Mas Caca bisa saja. Hahaha. Silahkan, Mas. Nanti bagian aku yang bawa album barunya deh, Mas.”
“Oke, Min. Saya pergi dulu ya. Hayu ah.”
Dan saya pun kembali berjalan menuju Bank. Kembali bekerja menjadi satpam yang kerjaannya hanya membukakan pintu dan mengucapkan selamat datang sambil terkadang membantu beberapa nasabah yang butuh bantuan. Terkadang saya ingin berhenti dan ingin meneruskan cita-cita saya menjadi musisi.
Chorusgirl_-_Chorusgirl

You Might Also Like

0 comments

Subscribe